Kamis, 05 April 2012

Barisan Batu Nisan

Sepi! Ketika embun-embun pagi masih
menggelayut di antara ujung-ujung rerumputan
yang kini kian rindang diantara berbarisnya batu
nisan di pemakaman itu. Ketika pagi masih
menyergap dingin yang semakin membekukan
langkah kaki.
Hanya kerlingan mata yang mampu menyapu
sekeliling hamparan lahan tandus yang kini mulai
basah diterpa musim hujan di masa penghujung
tahun ini.
Aku masih berdiri.
Bukan arena wisata yang aku harapkan, bukan
pula kesendirian di puncak gunung Semeru yang
aku impikan untuk sekedar mengisi waktu di
penghujung dasawarsa pertama di abad ini.
Seperti yang mereka semua rencanakan. Namun,
cukup dengan sebuah kemampuan untuk
melangkah lebih bijak, itupun aku kira sudah lebih
dari cukup dari semuanya.
Untuk itu, pagi ini aku langkahkan kaki menuju
sebuah tempat dimana orang-orang mulai
melupakan mereka yang sebelumnya pernah
mereka cintai. Sebuah tempat dimana orang-
orang mulai membiarkan mereka yang
sebelumnya pernah mereka sayangi kini terbujur
kaku dan sendiri. Disana. Pemakaman yang akan
menjadi terminal menuju babak baru yang telah
lama semestinya kita ketahui.
Matahari pagi yang kini mulai menggeliat lemah
dibalik awan di ufuk sana, ataukah hembusan
angin yang kembali dingin, yang mengelus
perlahan wajah ini ternyata tak mampu
membuyarkan ingatan ini atas semua yang telah
terjadi. Andaikah tak pernah ada langkah di esok
pagi, mungkin semua akan bersisa dengan
penyesalan atas segalanya. Dan aku
merasakannya.
Bermuhasabah, membayangkan seandainya aku
berada diantara mereka yang kini telah berada
menunggu di alam sana. Aku menghentikan
langkahku.
Sebuah makam yang terlalu kusam untuk
dikatakan sebagai sebuah tempat peristirahatan
kini membisu di ujung sana. Sebuah ukiran nama
yang telah semakin samar tertulis dibalik tingginya
ilalang yang menutupinya. Tak ada seikat bunga,
tak ada sebuah bintang jasa. Hanya ada sebuah
tanya, apakah bahagia dia yang mengisinya
disana? ataukah justru siksa yang tengah dia
derita? Wallahu'alam ...
Aku tertegun ...
Kerikil kecil mulai menghadang didepan sana.
Ingin rasanya aku berlari, melupakan segalanya
dan menjauh darinya. Dari semua yang akan
membawaku ke satu poros waktu menuju satu
dimensi baru kehidupan barzah-nya. Kapanpun
itu.
Namun dilain waktu, ingin rasanya aku justru
berlari dan meraih semuanya lebih cepat dari
seharusnya. Memasuki dimensi baru itu yang
mungkin akan membawa diri ini terlepas dari
semua keangkuhan dan ketidakadilan dunia.
Setiap jiwa memang akan merasakannya.
Merasakan satu hal yang mereka sebut sebagai
kematian itu. Setidaknya memang begitulah
berkali Alloh mengatakannya dalam firman-Nya.
Dan akupun menyadari sepenuhnya.
Namun yang selalu menjadi pertanyaan bagiku
adalah, mengapa meskipun aku tahu akan semua
itu tapi tak jarang aku seakan melupakannya dan
tak sedikitpun mengindahkannya.
Tak jarang aku justru melalaikannya dan
membiarkan semuanya bagaikan air yang
mengalir tak berujung dan tak berarah.
Aku masih berdiri. Diantara batu nisan yang
berbaris rapi dan diantara ilalang yang semakin
meninggi menutupi lahan tandus yang kini mulai
basah oleh hujan tadi malam.
Perlahan aku menundukkan pandangku. Haruskah
kubenamkan wajahku dalam rasa untuk berkata,
"Betapa rapuhnya aku?". Semoga saja tidak.
Dan andaikan esok mentari pagi akan menari lagi,
dan awan putih mengaraknya kembali menuntun
langkah ini untuk kembali tertatih dan berlari. Kini
aku harapkan untuk mampu berdiri dan berlari,
bukan lagi menuju keremangan jiwa, namun
menuju cahaya-Nya yang akan semakin
menerangi jiwa. Melangkah dalam rahmat dan
ridha-Nya.
Aku mengharapmu yaa Rabb ...
Untuk hidup yang lebih baik. InsyaAlloh ...

sumber: eramuslim